She is Love
SHE IS LOVE
Chapter I. Train Station
Tidak hanya pertama, kedua, ketiga kali saja aku bertemu dengannya, aku sudah bertemu dengannya sepuluh kali di stasiun ini. Di sini di stasiun mimiru kami selalu bertemu. Walau kami selalu begitu kami seperti tak ingin saling mengenal. Hingga suatu hari di sore hari pukul 16.00 setelah pulang dari kantor. Hari ini aku sangat lelah, pekerjaanku sangat banyak di kantor; banyak berkas yang penting yang harus di selesaikan secepatnya. Di tambah tugas khusus dari boss, rasanya aku ingin segera weekend saja. Padahal hari ini masih hari selasa. Yeah setidaknya aku dapat bonus dari tugas khusus yang di berikan oleh boss.
Tidak jauh dari kantor, aku berjalan kaki menuju stasiun mimiru. Letak kantor yang tidak jauh dari stasiun, hanya 840 meter arah utara dari kantor menjadikan daerah ini sangat strategis dan menguntungkan bagiku untuk menghemat pengeluaran transfortasi. Selain itu memakai jasa transfortasi kereta selain hemat adalah sebuah kesenangan bagiku, karena aku sangat suka naik kereta. Itu membuatku nyaman dan rileks setelah seharian bekerja di kantor yang membuatku lelah dan letih. Hmm... bila di pikirkan dengan baik mendapat kenyamanan itu adalah relatif. Kenyaman itu sama seperti waktu sama-sama relatif; bagaimana cara kita memandangnya dari sudut yang berbeda. Hanya dengan hal ringan yang kita lakukan karena suka, kenyamanan akan kita dapatkan. 4 menit saja aku berjalan, tak terasa aku telah sampai di stasiun. Hmm itu berarti kecepatanku berjalan 35 m/s huh,. Aku bersyukur masih di beri kesehatan oleh-Nya. Ketika aku memasuki stasiun Mimiru, yang pertama kali aku lakukan adalah memasukan E-Train Cardku dan memilih tujuan di machine loket, lalu setelah itu, seperti biasa mencari tempat duduk di deretan bangku tunggu. Menoleh ke kiri. Seperti hari-hari sebelumnya, dia tepat disana duduk di bangku tunggu seperti menunggu seseorang.
Mengenai data yang telah terkumpul aku berhipotesa bahwa gadis itu sedang dan selalu ada menungguku, bukan aku terlalu percaya diri, hanya saja data yang terkumpul 97% mengarah pada hipotesis itu.
Faktanya ia selalu tiba di stasiun mimiru lebih awal dariku dan masuk ke gerbong yang sama denganku setelah aku memasukinya. Sekitar 5-25 detik setelah aku masuk, dia akan menyusulku. Fakta yang menarik bukan? Kesimpulan itu membawaku harus menegurnya. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku menghampiri gadis itu lalu menyapanya, “hi, apa aku boleh duduk di sampingmu?” tanyaku sambil tersenyum.
“oh, hi!! Bo – boleh kak.” Mendengar nadanya sepertinya ia sedikit terkejut karena sapaanku.
“maaf ya, sepertinya aku sedikit mengejutkanmu?”
“tidak apa-apa kak, hanya saja aku tadi sedang melakukan.” jawabnya sambal tersenyum.
“kamu sedang menunggu seseorang, ya?” tanyaku lagi.
“bisa di bilang begitu. Lagian orang itu sudah tiba, aku menunggu naik kereta.” Jawabnya
Bicaranya aneh dia tidak menggunakan objek setelah kata kerja ‘menunggu’ sepertinya objek yang hilang itu adalah aku=-nya. Hmm... ini semakin menarik untuk ku selediki lebih jauh informasi mengenainya.
“sepertinya kamu haus? Tunggu sebentar aku akan membelikanmu minuman dan beberapa cemilan.” Aku langsung beranjak pergi menuju pending machine yang tidak jauh dari kursi tunggu.
Clink! Aku memasukan 50 ribu ke pending machine lalu aku memilih 2 botol air minum dan beberapa roti bungkus. Setelah membelinya aku segera kembali ke kursi tunggu dimana gadis itu duduk. Seketika aku terhenti mendapati kursi tunggu tempatnya duduk telah di isi oleh orang lain. Aku mencari – cari dan tidak mendapatinya, kemana ia pergi? Tanyaku dalam hati. Bingung dengan kepergiannya aku langsung memasukan minuman dan cemilan yang ku beli ke dalam tas dan langsung mengalihkan pandanganku kearah kiri, tiba-tiba sesorang menggenggam tanganku, aku tak tahu siapa dan ketika aku melihatnya. Ya, ia menggenggam tanganku dan menarikku ke arah pintu kereta. Aku sedikit terkejut dengan hal itu namun genggamannya tidak ku lepas, genggaman tak asing, ini begitu hangat dan nyaman. Aku hanya mengikutinya tidak membantahnya.
Di dalam kereta, gerbong yang kami tumpangi semua slot kursi telah terisi kecuali 1 slot tersisa di pojok kiri gerbong. Genggamannya yang erat menuntunku menuju slot kursi yang kosong. Tibanya disana, ia mempersilahkanku duduk. Apa? Yang benar saja, aku tak bisa membayangkan ini, “kau saja’lah yang duduk. Aku berdiri saja.” Jawabku
“Karena aku seorang perempuan. Kamu mengalah, Kamu saja ya?” raut mukanya seperti memaksa
“Tidak, kau saja.” Jawabku
“Tidak, kau saja.” Jawabnya
“Tidak, tidak kau saja.”
Hmmm... ini sulit mana bisa aku menang berdebat dari seorang perempuan? Bagaimanapun aku takkan menang darinya, lebih baik aku mengalah dan menuruti kemauannya meskipun ini sangat memalukan bagi seorang pria. tapi biarkan saja dulu, “kenapa kamu tidak mau duduk? Duduklah! kamu terlihat lelah.” Desakku.
“Tidak, aku tidak lelah kalau kita berdebat terus begini. Hufft… ya sudah, kamu duduk saja. Ikuti saja ini ide lain.” Menghela nafas
“Baik. Begini?” akhirnya aku mendengarkannya lalu melakukan apa yang di katakannya. Aku menutup mataku dengan kedua tanganku seraya memikirkan betapa memalukannya ini. Terlebih tiba-tiba kedua pahaku terasa berat, entah mengapa? Tapi feelingku mengatakan ini tidak baik. Dan seiring itu juga jantungku berdebar, ini aneh apa yag sebenarnya terjadi. Apa jangan-jangan?
“Eh!” terdengar penumpang berseru seperti tersentak, mendengar ada yang aneh aku langsung mengintip dari celah jari dan aku mendapati rambut bergelombang panjang yang menutupi pandangan dan menyentuh lenganku dengan lembut. Mengapa ia melakukan ini, apakah ia tidak tahu bahwa hal ini tabu di ruang publik apalagi ini negara indonesia yang menjunjung nilai norma keasusilaan yang tinggi. Dan ini tidak baik untuk jantungku juga; karena ini jantungku tak berhenti berdegup tidak beraturan seolah aku sedang berolahraga, “Hei, kenapa kamu duduk di pangkuanku? Ini tidak sopan, berdirilah” tanya dan perintahku.
“Tidak mau dan tidak akan. Mengapa tidak Sopan? Lihat! Gadis kecil itu tidak apa-apa duduk di pangkuan ibunya.” Jawabnya dengan enteng
Apa sih yang di pikirannya? Ya jelas beda-lah. Dia hanya anak kecil di pangku ibunya sedangkan yang di pangkuan seumuran denganku, “kamu itu sangat pintar ya. Ya jelas beda, kalau kamu mengundang mata Jones yang iri. Lihat!” Bisik ku sambil menunjuk.
“Tidak apa, biar saja. Toh aku nyaman begini.” Jawabnya cuek, “begini saja, kalau kamu keberatan aku duduk di pangkuanmu, kamu bisa di atas dan aku di bawah.” Ucapnya lagi
“Hei!” aku tersentak, “pelankan dan jaga ucapanmu. Jika orang lain mendengar ucapanmu, mereka bisa salah memahaminya.” Bisik ku.
“Memangnya salah ya ucapanku?”
“Bukan salah tapi kurang bijak.” Huh?! Hampir saja. Btw, aku belum mengenalnya, siapa dia? Sebaiknya aku tanyakan saja padanya, “Hei kita baru bertemu bahkan kita belum kenalan... Ka-“
“Namaku loverrete de gea. Panggil aku love atau cinta. Dan namamu?” dia memotong kata yang belum selesai ku ucapkan lalu tersenyum kearah samping, aku ingin marah tapi melihatnya tersenyum tulus dan betapa manisnya dia aku tidak jadi marah, malah membuat hatiku terasa sejuk dan damai. Ini benar-benar membutakan rasa ego ku.
“Na-namaku ikhsan al ikhlas al cendekia mash’ud al kindi. Kamu bisa memanggilku ikhsan. Senang berkenalan denganmu.” Membalas senyumannya
“wah namamu panjang dan ketimuran ya! Apa maknanya?” ia begitu tertarik terlihat dari bola matanya yang berbinar.
“Sepertinya kamu bukan asli dari negara ini ya, Apakah kamu asal Spanyol?” aku tak menjawabnya malah memberi pertanyaan kepadanya.
“Hampir tepat. Ayahku berasal dari sana dan ibuku asli indonesia dan kakek dari ibuku asli dari Inggris, ya itulah namaku.” Sambil tertawa kecil, “sepertinya kamu melupakan pertanyaanku?” lanjutnya lagi.
“Tidak, arti namaku itu, seseorang pintar dalam menghibur orang lain tanpa mengharap imbalan selain itu terinspirasi seorang ilmuwan muslim Alkindi dengan nama lengkap Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ alkindi, filsuf yang terkenal. Jadi aku mohon jaga sikap untuk menghormati namaku.” Pintaku
Zzz... Yah sepertinya dia tertidur. Bagaimana ini, Haruskah aku membangunkannya? Entahlah, sepertinya aku harus, “Hei bangun! Banguuun... Hoaaam!” mataku teras berat untuk terbuka rasanya seperti menempel dan kepalaku sangat pusing serta badanku terasa pegel karena lelah, aku sangat mengantuk...
Gelap dan hampa, aku masuk ke dalam ruang itu. Aku tidak tahu apa yang membawakan kemari. Bukankah tadi aku tertidur? Ya ini hanyalah mimpi, aku tidak usah kuatir. Toh aku akan terbangun’kan? Ya, sebentar lagi. Tapi mengapa ini seperti nyata; aku dapat menggerakkan badanku dan merasakan sensasi dari rangsangan luar. Lucid dream’kah? Mungkin... Ini gelap dan terasa dingin. bukankah Lucid dream seharusnya kita dapat mengubah mimpi sesuai yang kita inginkan? Apa yang sebenarnya terjadi aku hanya bisa menggerakkan badan dan merasakan sensasi tanpa bisa melihat seberkas cahayapun. Tolong aku!!!
“IKHSAN!” terdengar suara menggema,
“Siapa?” tanyaku
“Ikhsan!? Bangun, kau harus bangun.” terdengar suara samar seseorang memanggilku,
“LOVE! Apa itu kau?” tanyaku lagi. Dalam keputusasaan ruang yang gelap. mendengar suara, bagaikan mendapat sebuah harapan yang nyata bagiku untuk keluar dari mimpi buruk ini. Aku berusaha berlari untuk mengejar arah datangnya suara, tapi aku tak berdaya di ruang gelap nan hampa tiada daratan. Aku terapung-apung bagai di ruang angkasa yang sangat luas. Tetap berusaha walau terus gagal, tiba-tiba kesadaranku menghilang lalu aku tak sadarkan diri.
“Ikhsan! Lepaskan tanganmu,.. Ini sesak.” Tak terdengar jelas
Apa, kenapa, dimana aku? Tanyaku mulai tersadar dari mimpi yang menakutkan itu, setengah kaku aku mulai bisa merasakan tubuhku. Kelopak mataku mulai dapat membuka, pandangan terasa berat saat pertama mataku melihat.
“Uh, kenapa aku, Rasanya tanganku terasa hangat?” ujar ku pelan, “Oh hi love,” Sapa ku pada love ketika ia melihat ke arah kiri, “kenapa pipimu memerah?” tanyaku.
Perasaan apa ini, setelah apa yang telah aku alami di mimpi rasanya aku merindukan cahaya dan entah kenapa aku rindu dengan dia. Terasa hati ini lega saat melihatnya. Rambutnya yang tergerai hitam panjang menyentuh kulitku terasa lembut dan nyaman. Wajahnya yang cerah ceria ditambah pipinya nampak kemerahan, rasanya membuat mataku terpesona melihatnya. Suaranya manis manja, menggelitik telingaku setiap ia bicara, mungkin inilah yang membawaku kembali dari gelapnya kekosongan hati. Apa yang baru saja ku pikirkan, kami baru saja bertemu. Tidak aku harus kembali pada pikiran rasional. Dia perempuan asing dan begitu sebaliknya, kami harus mengenal lebih.
“Ikhsan!? @_@,...”
“Oh, maafkan aku love, aku tidak bermaksud,” kataku, melepaskan pelukan, “Love? Love? Hei!” seruku sambil memeriksa denyut nadi dan nafasnya. dia-dia pingsan! Apa yang telah kulakukan padanya hingga buat ia tak sadarkan diri? Gumamku.
Aku ingat ketika aku menjadi seorang pmr di eskul pramukaku dulu, aku sering menangani anggota pramuka yang pingsan. Beruntungnya, pertama yang harus aku lakukan adalah menempatkannya (penderita) di posisi paling nyaman, hmmm... Mungkin begini cukup nyaman. Membaringkannya,.. Setelah mengusir 3 orang yang duduk di samping. Haha! Lalu setelahnya, meringankan arah kepala. kaki harus lebih tinggi dari posisi badan, maka dari itu, aku meletakkan tasku untuk menyangga kaki. Bagiannya sedikit sulitnya adalah aku harus melonggarkan seluruh yang di kenakan penderita yang membuatnya sulit untuk bernafas, ini agak canggung tapi harus aku lakukan. Aku melonggarkan ikat pinggang yang ia kenakan lalu,.. Ya ampun! Bagaimana ini, haruskah aku menyalahkannya, dia memakai pakaian berkancing yang sangat ketat. Yah bagaimana lagi, aku harus melepaskannya.
"Tolong! Ada pria cabul di kereta!" teriak seorang wanita yang melihat aksiku.
"Hei! Nyonya, jangan menuduhku yang bukan-bukan. Aku melakukan ini untuk membantu temanku yang sedang pingsan." Ujar ku tegas membuat wanita itu terhentak kaget.
Orang-orang di dalam gerbong terlanjur terpicu oleh teriakannya. Mereka mengerubungi kami, aku berdiri tegap, lalu menjelaskan permasalahan yang terjadi dan aku meminta pada mereka untuk memberi ruang untuk kami. Perlahan-lahan mereka semua mengerti dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Karena kejadian itu aku mendapat banyak bantuan dari penumpang, ada yang memberi kami susu kotak, minuman rasa jeruk, balsem, roti, bahkan minyak kayu putih. Kalau aku tahu akan jadi begini, seharusnya sedari tadi aku umumkan dan meminta tolong mengenai situasi ini, bukan menanggungnya sendirian. Bagaimanapun aku harus bersyukur tidak di hakimi penumpang kereta atas kesalahpahaman yang terjadi.
Balsem atau minyak kayu putih? Mungkin balsem efeknya akan terlalu panas untuknya, sebaiknya aku gunakan minyak kayu putih saja. Semoga ini berhasil! Gumamku, membuka penutup botol minyak kayu putih lalu mengoleskannya pada pelipis dan lehernya tak lupa ku oleskan di bagian bawah hidungnya.
Membalurkan minyak kayu putih di antara ibu jari dan telunjuk lalu memijatnya, sambil berharap ia segera sadar dari pingsannya.
Ini sudah 1 menit 24 detik tapi ia tak kunjung sadar! Sebaiknya aku oleskan balsem. Gumamku, mengambil balsem dan membukanya.
"love? Semoga kamu cepat sadar dengan balsem ini." aku mengoleskan balsem pada leher, pelipis dan diantara ibu jari dan telunjuk, "Ayolah love, sadar! Stasiun masih jauh." Seru ku pada love.
....
Aku terus melihat jarum panjang Yang terus berotasi di pergelangan tanganku. Hampir dua menit sejak ia pingsan, belum ada tanda bahwa ia akan sadar. Aku sangat cemas padanya, walaupun kami baru saling kenal. Hingga 1 menit 57 detik... Matanya mulai membuka, ia terlihat sangat bingung dan lemas. Ia tidak bisa menggerakkan lengannya, aku membantunya untuk duduk, "Rileks, kamu baru saja sadar dari pingsan. Minumlah ini." aku memberikan susu kotak rasa coklat padanya.
Setelah itu aku mengajaknya untuk mengobrol dengan topik yang santai, hingga ia larut dalam keriangan dan melupakan rasa pusing yang ia derita.
Kurang lebih 30 menit penderita pingsan akan merasakan kebingungan di sertai lemas. Jadi aku harus mengajaknya bersantai.
20 menit berlalu, kereta berhenti di stasiun tempatku seharusnya. Sebelumnya aku melihat dompetnya tanpa ijin untuk melihat alamat rumah di KTP-nya, sekilas aku sedikit terkejut bahwa ia bertempat tinggal di perumahan yang sama denganku, "maaf Love, tadi ketika kamu masih pingsan Aku melihat dompet untuk mengecek alamatmu." ujarku meminta maaf.
"jadi kamu udah tahu identitasku?" tanya nya.
"tidak, aku hanya melihat alamat rumahmu. Tidak lebih." Jawabku datar,
"sekalian saja aku akan menggendongmu hingga kamu sembuh." ujarnya.
"...."
Di stasiun, aku menemaninya duduk. Hari ini mungkin akan menjadi kisah yang tidak terduga dalam hidupku, seseorang yang tidak ku kenal atau seseorang yang penting di masa lalu yang ku lupakan hadir dalam kehidupan di masa kini. Aku belum mengetahui jelas apa maksud tujuannya. Yang pasti hadirnya akan memberikan warna baru dalam hidupku.
Tidak jauh dari kantor, aku berjalan kaki menuju stasiun mimiru. Letak kantor yang tidak jauh dari stasiun, hanya 840 meter arah utara dari kantor menjadikan daerah ini sangat strategis dan menguntungkan bagiku untuk menghemat pengeluaran transfortasi. Selain itu memakai jasa transfortasi kereta selain hemat adalah sebuah kesenangan bagiku, karena aku sangat suka naik kereta. Itu membuatku nyaman dan rileks setelah seharian bekerja di kantor yang membuatku lelah dan letih. Hmm... bila di pikirkan dengan baik mendapat kenyamanan itu adalah relatif. Kenyaman itu sama seperti waktu sama-sama relatif; bagaimana cara kita memandangnya dari sudut yang berbeda. Hanya dengan hal ringan yang kita lakukan karena suka, kenyamanan akan kita dapatkan. 4 menit saja aku berjalan, tak terasa aku telah sampai di stasiun. Hmm itu berarti kecepatanku berjalan 35 m/s huh,. Aku bersyukur masih di beri kesehatan oleh-Nya. Ketika aku memasuki stasiun Mimiru, yang pertama kali aku lakukan adalah memasukan E-Train Cardku dan memilih tujuan di machine loket, lalu setelah itu, seperti biasa mencari tempat duduk di deretan bangku tunggu. Menoleh ke kiri. Seperti hari-hari sebelumnya, dia tepat disana duduk di bangku tunggu seperti menunggu seseorang.
Mengenai data yang telah terkumpul aku berhipotesa bahwa gadis itu sedang dan selalu ada menungguku, bukan aku terlalu percaya diri, hanya saja data yang terkumpul 97% mengarah pada hipotesis itu.
Faktanya ia selalu tiba di stasiun mimiru lebih awal dariku dan masuk ke gerbong yang sama denganku setelah aku memasukinya. Sekitar 5-25 detik setelah aku masuk, dia akan menyusulku. Fakta yang menarik bukan? Kesimpulan itu membawaku harus menegurnya. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku menghampiri gadis itu lalu menyapanya, “hi, apa aku boleh duduk di sampingmu?” tanyaku sambil tersenyum.
“oh, hi!! Bo – boleh kak.” Mendengar nadanya sepertinya ia sedikit terkejut karena sapaanku.
“maaf ya, sepertinya aku sedikit mengejutkanmu?”
“tidak apa-apa kak, hanya saja aku tadi sedang melakukan.” jawabnya sambal tersenyum.
“kamu sedang menunggu seseorang, ya?” tanyaku lagi.
“bisa di bilang begitu. Lagian orang itu sudah tiba, aku menunggu naik kereta.” Jawabnya
Bicaranya aneh dia tidak menggunakan objek setelah kata kerja ‘menunggu’ sepertinya objek yang hilang itu adalah aku=-nya. Hmm... ini semakin menarik untuk ku selediki lebih jauh informasi mengenainya.
“sepertinya kamu haus? Tunggu sebentar aku akan membelikanmu minuman dan beberapa cemilan.” Aku langsung beranjak pergi menuju pending machine yang tidak jauh dari kursi tunggu.
Clink! Aku memasukan 50 ribu ke pending machine lalu aku memilih 2 botol air minum dan beberapa roti bungkus. Setelah membelinya aku segera kembali ke kursi tunggu dimana gadis itu duduk. Seketika aku terhenti mendapati kursi tunggu tempatnya duduk telah di isi oleh orang lain. Aku mencari – cari dan tidak mendapatinya, kemana ia pergi? Tanyaku dalam hati. Bingung dengan kepergiannya aku langsung memasukan minuman dan cemilan yang ku beli ke dalam tas dan langsung mengalihkan pandanganku kearah kiri, tiba-tiba sesorang menggenggam tanganku, aku tak tahu siapa dan ketika aku melihatnya. Ya, ia menggenggam tanganku dan menarikku ke arah pintu kereta. Aku sedikit terkejut dengan hal itu namun genggamannya tidak ku lepas, genggaman tak asing, ini begitu hangat dan nyaman. Aku hanya mengikutinya tidak membantahnya.
Di dalam kereta, gerbong yang kami tumpangi semua slot kursi telah terisi kecuali 1 slot tersisa di pojok kiri gerbong. Genggamannya yang erat menuntunku menuju slot kursi yang kosong. Tibanya disana, ia mempersilahkanku duduk. Apa? Yang benar saja, aku tak bisa membayangkan ini, “kau saja’lah yang duduk. Aku berdiri saja.” Jawabku
“Karena aku seorang perempuan. Kamu mengalah, Kamu saja ya?” raut mukanya seperti memaksa
“Tidak, kau saja.” Jawabku
“Tidak, kau saja.” Jawabnya
“Tidak, tidak kau saja.”
Hmmm... ini sulit mana bisa aku menang berdebat dari seorang perempuan? Bagaimanapun aku takkan menang darinya, lebih baik aku mengalah dan menuruti kemauannya meskipun ini sangat memalukan bagi seorang pria. tapi biarkan saja dulu, “kenapa kamu tidak mau duduk? Duduklah! kamu terlihat lelah.” Desakku.
“Tidak, aku tidak lelah kalau kita berdebat terus begini. Hufft… ya sudah, kamu duduk saja. Ikuti saja ini ide lain.” Menghela nafas
“Baik. Begini?” akhirnya aku mendengarkannya lalu melakukan apa yang di katakannya. Aku menutup mataku dengan kedua tanganku seraya memikirkan betapa memalukannya ini. Terlebih tiba-tiba kedua pahaku terasa berat, entah mengapa? Tapi feelingku mengatakan ini tidak baik. Dan seiring itu juga jantungku berdebar, ini aneh apa yag sebenarnya terjadi. Apa jangan-jangan?
“Eh!” terdengar penumpang berseru seperti tersentak, mendengar ada yang aneh aku langsung mengintip dari celah jari dan aku mendapati rambut bergelombang panjang yang menutupi pandangan dan menyentuh lenganku dengan lembut. Mengapa ia melakukan ini, apakah ia tidak tahu bahwa hal ini tabu di ruang publik apalagi ini negara indonesia yang menjunjung nilai norma keasusilaan yang tinggi. Dan ini tidak baik untuk jantungku juga; karena ini jantungku tak berhenti berdegup tidak beraturan seolah aku sedang berolahraga, “Hei, kenapa kamu duduk di pangkuanku? Ini tidak sopan, berdirilah” tanya dan perintahku.
“Tidak mau dan tidak akan. Mengapa tidak Sopan? Lihat! Gadis kecil itu tidak apa-apa duduk di pangkuan ibunya.” Jawabnya dengan enteng
Apa sih yang di pikirannya? Ya jelas beda-lah. Dia hanya anak kecil di pangku ibunya sedangkan yang di pangkuan seumuran denganku, “kamu itu sangat pintar ya. Ya jelas beda, kalau kamu mengundang mata Jones yang iri. Lihat!” Bisik ku sambil menunjuk.
“Tidak apa, biar saja. Toh aku nyaman begini.” Jawabnya cuek, “begini saja, kalau kamu keberatan aku duduk di pangkuanmu, kamu bisa di atas dan aku di bawah.” Ucapnya lagi
“Hei!” aku tersentak, “pelankan dan jaga ucapanmu. Jika orang lain mendengar ucapanmu, mereka bisa salah memahaminya.” Bisik ku.
“Memangnya salah ya ucapanku?”
“Bukan salah tapi kurang bijak.” Huh?! Hampir saja. Btw, aku belum mengenalnya, siapa dia? Sebaiknya aku tanyakan saja padanya, “Hei kita baru bertemu bahkan kita belum kenalan... Ka-“
“Namaku loverrete de gea. Panggil aku love atau cinta. Dan namamu?” dia memotong kata yang belum selesai ku ucapkan lalu tersenyum kearah samping, aku ingin marah tapi melihatnya tersenyum tulus dan betapa manisnya dia aku tidak jadi marah, malah membuat hatiku terasa sejuk dan damai. Ini benar-benar membutakan rasa ego ku.
“Na-namaku ikhsan al ikhlas al cendekia mash’ud al kindi. Kamu bisa memanggilku ikhsan. Senang berkenalan denganmu.” Membalas senyumannya
“wah namamu panjang dan ketimuran ya! Apa maknanya?” ia begitu tertarik terlihat dari bola matanya yang berbinar.
“Sepertinya kamu bukan asli dari negara ini ya, Apakah kamu asal Spanyol?” aku tak menjawabnya malah memberi pertanyaan kepadanya.
“Hampir tepat. Ayahku berasal dari sana dan ibuku asli indonesia dan kakek dari ibuku asli dari Inggris, ya itulah namaku.” Sambil tertawa kecil, “sepertinya kamu melupakan pertanyaanku?” lanjutnya lagi.
“Tidak, arti namaku itu, seseorang pintar dalam menghibur orang lain tanpa mengharap imbalan selain itu terinspirasi seorang ilmuwan muslim Alkindi dengan nama lengkap Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ alkindi, filsuf yang terkenal. Jadi aku mohon jaga sikap untuk menghormati namaku.” Pintaku
Zzz... Yah sepertinya dia tertidur. Bagaimana ini, Haruskah aku membangunkannya? Entahlah, sepertinya aku harus, “Hei bangun! Banguuun... Hoaaam!” mataku teras berat untuk terbuka rasanya seperti menempel dan kepalaku sangat pusing serta badanku terasa pegel karena lelah, aku sangat mengantuk...
Gelap dan hampa, aku masuk ke dalam ruang itu. Aku tidak tahu apa yang membawakan kemari. Bukankah tadi aku tertidur? Ya ini hanyalah mimpi, aku tidak usah kuatir. Toh aku akan terbangun’kan? Ya, sebentar lagi. Tapi mengapa ini seperti nyata; aku dapat menggerakkan badanku dan merasakan sensasi dari rangsangan luar. Lucid dream’kah? Mungkin... Ini gelap dan terasa dingin. bukankah Lucid dream seharusnya kita dapat mengubah mimpi sesuai yang kita inginkan? Apa yang sebenarnya terjadi aku hanya bisa menggerakkan badan dan merasakan sensasi tanpa bisa melihat seberkas cahayapun. Tolong aku!!!
“IKHSAN!” terdengar suara menggema,
“Siapa?” tanyaku
“Ikhsan!? Bangun, kau harus bangun.” terdengar suara samar seseorang memanggilku,
“LOVE! Apa itu kau?” tanyaku lagi. Dalam keputusasaan ruang yang gelap. mendengar suara, bagaikan mendapat sebuah harapan yang nyata bagiku untuk keluar dari mimpi buruk ini. Aku berusaha berlari untuk mengejar arah datangnya suara, tapi aku tak berdaya di ruang gelap nan hampa tiada daratan. Aku terapung-apung bagai di ruang angkasa yang sangat luas. Tetap berusaha walau terus gagal, tiba-tiba kesadaranku menghilang lalu aku tak sadarkan diri.
“Ikhsan! Lepaskan tanganmu,.. Ini sesak.” Tak terdengar jelas
Apa, kenapa, dimana aku? Tanyaku mulai tersadar dari mimpi yang menakutkan itu, setengah kaku aku mulai bisa merasakan tubuhku. Kelopak mataku mulai dapat membuka, pandangan terasa berat saat pertama mataku melihat.
“Uh, kenapa aku, Rasanya tanganku terasa hangat?” ujar ku pelan, “Oh hi love,” Sapa ku pada love ketika ia melihat ke arah kiri, “kenapa pipimu memerah?” tanyaku.
Perasaan apa ini, setelah apa yang telah aku alami di mimpi rasanya aku merindukan cahaya dan entah kenapa aku rindu dengan dia. Terasa hati ini lega saat melihatnya. Rambutnya yang tergerai hitam panjang menyentuh kulitku terasa lembut dan nyaman. Wajahnya yang cerah ceria ditambah pipinya nampak kemerahan, rasanya membuat mataku terpesona melihatnya. Suaranya manis manja, menggelitik telingaku setiap ia bicara, mungkin inilah yang membawaku kembali dari gelapnya kekosongan hati. Apa yang baru saja ku pikirkan, kami baru saja bertemu. Tidak aku harus kembali pada pikiran rasional. Dia perempuan asing dan begitu sebaliknya, kami harus mengenal lebih.
“Ikhsan!? @_@,...”
“Oh, maafkan aku love, aku tidak bermaksud,” kataku, melepaskan pelukan, “Love? Love? Hei!” seruku sambil memeriksa denyut nadi dan nafasnya. dia-dia pingsan! Apa yang telah kulakukan padanya hingga buat ia tak sadarkan diri? Gumamku.
Aku ingat ketika aku menjadi seorang pmr di eskul pramukaku dulu, aku sering menangani anggota pramuka yang pingsan. Beruntungnya, pertama yang harus aku lakukan adalah menempatkannya (penderita) di posisi paling nyaman, hmmm... Mungkin begini cukup nyaman. Membaringkannya,.. Setelah mengusir 3 orang yang duduk di samping. Haha! Lalu setelahnya, meringankan arah kepala. kaki harus lebih tinggi dari posisi badan, maka dari itu, aku meletakkan tasku untuk menyangga kaki. Bagiannya sedikit sulitnya adalah aku harus melonggarkan seluruh yang di kenakan penderita yang membuatnya sulit untuk bernafas, ini agak canggung tapi harus aku lakukan. Aku melonggarkan ikat pinggang yang ia kenakan lalu,.. Ya ampun! Bagaimana ini, haruskah aku menyalahkannya, dia memakai pakaian berkancing yang sangat ketat. Yah bagaimana lagi, aku harus melepaskannya.
"Tolong! Ada pria cabul di kereta!" teriak seorang wanita yang melihat aksiku.
"Hei! Nyonya, jangan menuduhku yang bukan-bukan. Aku melakukan ini untuk membantu temanku yang sedang pingsan." Ujar ku tegas membuat wanita itu terhentak kaget.
Orang-orang di dalam gerbong terlanjur terpicu oleh teriakannya. Mereka mengerubungi kami, aku berdiri tegap, lalu menjelaskan permasalahan yang terjadi dan aku meminta pada mereka untuk memberi ruang untuk kami. Perlahan-lahan mereka semua mengerti dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Karena kejadian itu aku mendapat banyak bantuan dari penumpang, ada yang memberi kami susu kotak, minuman rasa jeruk, balsem, roti, bahkan minyak kayu putih. Kalau aku tahu akan jadi begini, seharusnya sedari tadi aku umumkan dan meminta tolong mengenai situasi ini, bukan menanggungnya sendirian. Bagaimanapun aku harus bersyukur tidak di hakimi penumpang kereta atas kesalahpahaman yang terjadi.
Balsem atau minyak kayu putih? Mungkin balsem efeknya akan terlalu panas untuknya, sebaiknya aku gunakan minyak kayu putih saja. Semoga ini berhasil! Gumamku, membuka penutup botol minyak kayu putih lalu mengoleskannya pada pelipis dan lehernya tak lupa ku oleskan di bagian bawah hidungnya.
Membalurkan minyak kayu putih di antara ibu jari dan telunjuk lalu memijatnya, sambil berharap ia segera sadar dari pingsannya.
Petunjuk singkat menangani korban pingsan. Jpg
Ini sudah 1 menit 24 detik tapi ia tak kunjung sadar! Sebaiknya aku oleskan balsem. Gumamku, mengambil balsem dan membukanya.
"love? Semoga kamu cepat sadar dengan balsem ini." aku mengoleskan balsem pada leher, pelipis dan diantara ibu jari dan telunjuk, "Ayolah love, sadar! Stasiun masih jauh." Seru ku pada love.
....
Aku terus melihat jarum panjang Yang terus berotasi di pergelangan tanganku. Hampir dua menit sejak ia pingsan, belum ada tanda bahwa ia akan sadar. Aku sangat cemas padanya, walaupun kami baru saling kenal. Hingga 1 menit 57 detik... Matanya mulai membuka, ia terlihat sangat bingung dan lemas. Ia tidak bisa menggerakkan lengannya, aku membantunya untuk duduk, "Rileks, kamu baru saja sadar dari pingsan. Minumlah ini." aku memberikan susu kotak rasa coklat padanya.
Setelah itu aku mengajaknya untuk mengobrol dengan topik yang santai, hingga ia larut dalam keriangan dan melupakan rasa pusing yang ia derita.
Kurang lebih 30 menit penderita pingsan akan merasakan kebingungan di sertai lemas. Jadi aku harus mengajaknya bersantai.
20 menit berlalu, kereta berhenti di stasiun tempatku seharusnya. Sebelumnya aku melihat dompetnya tanpa ijin untuk melihat alamat rumah di KTP-nya, sekilas aku sedikit terkejut bahwa ia bertempat tinggal di perumahan yang sama denganku, "maaf Love, tadi ketika kamu masih pingsan Aku melihat dompet untuk mengecek alamatmu." ujarku meminta maaf.
"jadi kamu udah tahu identitasku?" tanya nya.
"tidak, aku hanya melihat alamat rumahmu. Tidak lebih." Jawabku datar,
"sekalian saja aku akan menggendongmu hingga kamu sembuh." ujarnya.
"...."
Di stasiun, aku menemaninya duduk. Hari ini mungkin akan menjadi kisah yang tidak terduga dalam hidupku, seseorang yang tidak ku kenal atau seseorang yang penting di masa lalu yang ku lupakan hadir dalam kehidupan di masa kini. Aku belum mengetahui jelas apa maksud tujuannya. Yang pasti hadirnya akan memberikan warna baru dalam hidupku.
Ikhsan for
Loverrete de gea



Komentar
Posting Komentar