Kisah pejuang kecil





Kakekku, adi sadam, panggilan akrabnya pernah bercerita padaku bahwa ia pernah ikut berperang bersama pamannya ketika ia masih kecil. Kala itu ia menjadi seorang pengumpan untuk memancing belanda ke dalam hutan, setelahnya pamannya'lah yang bekerja. Biar ku ceritakan kisahnya...
Hidup di era penjajahan amatlah sengsara dan itu pernah di alami kakekku ketika usianya 14 tahun. Walaupun usianya masih kanak-kanak ia sudah ikut berjuang untuk kemerdekaan. Ia mengikuti jejak pamannya yang juga seorang pejuang kemerdekaan yang menggunakan teknik gerilya seperti kebanyakan pejuang lainnya.
Di dalam hutan belantara mereka berbaur dengan alam dan bergerak cepat bagai kilat. Sabar bagai seekor laba-laba menunggu mangsanya, mereka menunggu dan selalu menunggu hingga... Muncul'lah tentara belanda melewati jalan di antara hutan, dan di balik pepohonan adi mengamati mereka dengan seksama ia telah menunggu lama untuk kedatangan mereka. Tanpa rasa takut dalam dirinya, ia perlahan bergerak mendekat dan mengambil sebuah batu yang cukup besar dari lengannya lalu dengan berani ia lemparkan ke arah tentara yang melintas. Tanpa rasa takut dalam dirinya, ia perlahan bergerak mendekat dan mengambil sebuah batu yang cukup besar dari tangannya lalu dengan berani dan sekuat tenga ia lemparkan ke arah tentara yang melintas. Batu yang adi lempar tidak mengenai seorang tentara belanda pun, batu itu hanya jatuh tepat di hadapan mereka namun hal itu membuat semua tentara terkejut dan tak menyangka akan di serang. Mereka waspada membentuk pertahanan saling membelakangi dan mencari-cari pelakunya. Tiba tiba terlihat sebuah helm dari balik pohon, tentara yang melihat itu langsung menembak kearahnya sambil berteriak. 
membelakangi dan mencari-cari pelakunya. Tiba tiba terlihat sebuah helm dari balik pohon, tentara yang melihat itu langsung menembak kearahnya.

"Disana!" tertiaknya menggunakan bahasa Belanda.
Insting Adi mengatakan ia sukses memancing tentara belanda dan ia pun berlari kedalam hutan di iringi kibasan tangannya ke semak dan ranting untuk membuat suara.
Salah seorang tentara terpancing dan mengejar Adi masuk ke dalam hutan.
"Tunggu!" ujar temannya melarangnya tapi ia mengindahkannya seperti tuli dan bisu tidak merespon kawannya.
Selama kejar-kejaran berlangsung, seseorang tentara belanda itu sesekali menekan pelatuk senapannya. Moncongnya mengarah ke Adi, muntahan peluru hampir mengenainya.
"Menunduk!" suara seseorang menyuruh adi beberapa detik sebelum pelatuk itu di tekan, Adi pun melakukannya dengan reflek.
Tentara belanda itu mendekat, ia bersiap dengan senapan di genggamnya.
"..." ia terdiam mengamati Adi yang tengah merunduk, dan ia dapati ternyata yang menyerang mereka hanyalah anak kecil dan ia merasa terbodohi dan kesal hingga ia lampiaskan kepada Adi dengan menginjak tubuhnya.
"Ampun tuan." ujar merintih dengan bahasa Belanda.
Tiba-tiba di balik pohon di depan Adi keluar sesosok pria berpakaian serba putih. Ia bergerak mendekati tentara itu dengan sangat cepat menebaskan goloknya tepat di lehernya hingga memisahkan kepala dengan tubuhnya  tanpa sempat tentara itu menyadarinya. Dan kepalanya jatuh menggelinding seperti sebuah bola sedangkan tubuhnya yang berdiri tegap perlahan jatuh bersujud di hadapan pria berpakaian putih yang tak lain paman nur.
"Bangun nak, bahaya belum usai." ujarnya mengulurkan tangan yang di sambut Tangan Adi lalu adi-pun bangkit, "pergilah duluan, nanti paman menyusul." ujarnya berlanjut.
Adi-pun mengikuti perintah paman nya dan ia pergi ke tempat persembunyian di dalam hutan. Sebenarnya paman nur tak ingin Adi terlibat dan melihat hal ini, tapi keadaan yang mengharuskannya.
Tidak beberapa lama kemudian tentara bantuan datang ke lokasi, mereka terkejut melihat tubuh kawannya tergelatak, mereka menghampirinya lalu mendapati kawannya tidak bernyawa... Semakin terkejut mereka mendapatinya tanpa kepala alias terpenggal.
"siapa yang melakukannya?!" teriak salah seorang tentara.
tentu saja keheningan hutan menyelemuti tanpa jawaban, perlahan-lahan para tentara mendekati mayat dan mencoba mengamati apa sebenarnya terjadi. Namun ketika tentara belanda mendekatinya tiba-tiba terdengar letupan senjata api yang di iringi jatuhnya seorang dari mereka... mendapati serangan mereka yang tak siap panik saling menjaga. Dari atas mereka darah menetes mengenai wajah salah satu tentara hingga ia mengadahkan wajahnya ke atas... dan ia mendapat pemandangangan yang mengerikan, sebuah kepala yang di jambak seorang pria lalu ia melemparkan padanya.
pria itu melompat kearah mereka lalu satu per satu tebasan golok mengenai hampir seluruh tentara belanda, hanya satu dari mereka yang selamat. paman nur hanya menyisakan satu untuk sebuah peringatan kepada bangsa jepang bahwa akan ada hal yang mengerikan lebih dari itu bila mereka menjelajah hutan itu lagi.
"Paman kenapa kenapa menyisakan satu?" Di balik semak Adi keluar, di memegang senapan yang rampas dari prajurit yang terpenggal.
"Paman bilang jangan kembali." ujarnya paman kesal.
"Tenang Adi anak tyang kuat. Menembak saja Adi bisa melakukannya." ujar Adi polos.
Mereka pun kembali ke markas di dalam hutan.
Kejadian itu membuat berita heboh yang menyebarm luas di kalangan belanda. mereka tidak berani melewati hutan itu lagi.Sekali lagi hutan aman daii aktivitas tentara belanda.


Kisah ini adalah kisah nyata yang selalu di ceritakan oleh kakekku

Hormat saya untuknya,

Her

Komentar